Skip to main content

Posts

Menuju 27: Siap?

2020 berlalu begitu cepat. Enggak terasa, ternyata udah masuk bulan Juli, dan artinya sudah resmi meninggalkan setengah bagian di tahun ini. Mungkin buat sebagian orang, 2020 adalah tahun yang paling mencekam dan enggak ada asyiknya. Buat gue juga sih, sebenernya. Rasanya baru kemarin pindah kantor baru, merasakan dunia baru dengan jabatan dan tanggung jawab yang baru (ehm, plus gaji yang baru tentunya hehe), natal, tahun baru, banjir di tahun baru, dan tiba-tiba udah dalam adegan menimbun lemak di rumah sepanjang hari. Bersamaan dengan rasa "enggak nyangka", gue juga enggak menyangka bahwa bulan ini adalah bulan ke 27 yang akan gue lalui. Itu artinya, gue sedang bersiap menuju angka 27. Wow, bisa dibilang tua gak sih? Hehehe. Anyway , sebagai usaha bagi-bagi-fakta, usia ke-27 adalah angka yang gue favoritkan sejak masa remaja. Entah kenapa, usia ke-27 tampak dewasa, pakem, dan matang.  Dulu gue sempat berpikir, di usia 27, gue akan menikmati masa sebagai wanita k...

Krisis Kepercayaan Diri: Wajar atau Berlebihan?

Belakangan tab Explore di Instagram gue ramai banget dengan TikTok segala rupa. Beragam manusia, mulai dari yang gue kenal sampe yang "Ini siapa sih?" muncul gitu aja. Ada yang semangat '45 buat joget, malu-malu, sampe niat bikin konten yang enak dipandang. Semuanya lengkap di Explore. Enggak hanya TikTok yang berjaya. Explore gue juga diramaikan oleh manusia lainnya yang lagi seneng-senengnya menggandrungi dunia cover lagu dan musik. Asyik sih, karena gue bisa menikmati 1 lagu dengan berbagai jenis aransemen. Se-enggaknya, meskipun gue emang bukan orang yang berbakat di dunia musik, tapi bisa menikmati banyak lagu enak lumayan bikin happy . Ada juga yang melukis, vlogging , masak, bikin kue, bikin kerajinan tangan dan kesenian, bergelut dalam olahraga, dan konten lainnya. Lama kelamaan gue jadi minder. Kok gue gini-gini aja, cuman jadi penikmat dan enggak berbuat "sesuatu yang menarik" juga kayak mereka? Ujungnya, gue jadi mempertanyakan sekaligus menya...

Buah Pikir Sebelum Mangkir

Mengikuti gerak-gerikmu menjadi rutinitas yang tidak pernah ku sengaja. Memandangi meski dari layar kaca ponsel selalu membuat jantungku berdebar. Kamu dan segala isi pikiranmu yang tertuang dengan maha megah sungguh berbalik dengan caramu berbicara. Hemat kata, hingga hampir bisu tak bersuara. Aku tidak perlu menyuarakan segala rasa dan rindu. Aku tak berhak atas semua yang manis bak jajanan anak para tetanggaku. Dan aku terlalu jauh menjadi iya bagimu, dan terlalu dekat menjadi tidak untuk rasa yang ku terbangkan. Semoga cinta ini tidak sia-sia dan berujung air mata semata. Demi rasa yang selalu hidup, abang, aku mengasihimu.

Babak Belur Toleransi

Berita intoleransi kembali terjadi di Indonesia. Saya hanya bisa tersenyum tumpul ketika membacanya di portal dunia maya. “Apa?! Hah? Lapor aja!” Terdengar sekaligus terlihat jelas seorang lelaki berteriak ‘tuk paksakan penghentian ibadah. Ibadah di rumah ibadah sedang dilarang oleh pemerintah. Bukan perihal Indonesia pindah haluan ideologi. Ini demi “jaga jarak antar manusia” alias  physical distancing . Ingat, bukan ibadahnya yang dilarang, namun ke rumah ibadahnya yang dihentikan sementara. Tak usah gelisah apalagi marah, untungnya Allah memang Maha Hadir. Ibadah di rumahpun, saya yakin Allah mampir. Saya ingin kilas balik dengan salah satu kasus intoleransi terbesar yang pernah saya alami secara tidak langsung. Bukan saya korbannya. Saya hanya manusia yang beruntung bisa menerima pelajaran terbaik di masa itu. Dulu tahun 1998 saya dan keluarga berpindah ke Jambi. Mungkin sudah menjadi agenda rutin keluarga untuk berpindah kala itu. Ayah bekerja di perkebun...

#dirumahaja

Hari ini saat gue nulis, hem maksud gue ngetik ini,  finally  gue sedang bekerja di rumah. Yap! Bersyukur pada akhirnya kantor gue menjalani  #WFH  alias  Work From Home  yang marak digaungkan belakangan ini. Belum lagi aksi tagar  #dirumahaja  juga semakin menggelora.  You know  dong gais, ini semua terjadi karena virus Covid-19 yang kian mewabah di dunia, hingga tidak mungkin jika Indonesia tidak ikutan terpapar. Berdiri di antara negara-negara tetangga lainnya, dan juga menjadi tempat persinggahan warga dunia lainnya, menurut gue wajar juga jikalau akhirnya Indonesia harus menerima konsekuensi epidemi ini. In other hands , gue tetap bersyukur. Bersyukur bukan artinya gue tertawa hingga lepas kendali di atas penderitaan orang lain. Atau, gue senyum-senyum ketika melihat banyak orang yang jatuh sakit bahkan meninggal setelah didera Covid-19. Tapi gue bersyukur karena faktanya, gue, dan (pastinya) kita semua masih diberikan kesempa...

Caraku Mencintai Aku

"You deserved to be happy." Pasti lumayan sering kan denger atau lihat ucapan tadi? Hampir semua self-healing mengedepankan konsep ini. Intinya, kamu berhak bahagia. Belakangan pikiranku lagi banyak banget isinya. Silih berganti antara pekerjaan, keluarga, mimpi, patah hati, dan sebagainya yang terasa tidak kunjung mati. Makin diem, malah makin kerasa muramnya. Aku coba cari, hem salah di mana ya? I tried my best so so so hard to find out what's going on at that time. Gue mencoba untuk kembali pada asal, yaitu back to God . Ini penting dan mandatori, tapi kok rasanya susah ya buka obrolan dengan Tuhan? Bahkan sudah baca Kitab Suci, udah nyanyi pujian, tapi kayak engga nemu aja celah buat curhat colongan ke Tuhan. Akhirnya memutuskan untuk rehat. Bukan sekadar rehat secara fisik, namun juga mental. Aku mulai belajar untuk mencintai diri sendiri melalui asupan-asupan baik bagi tubuh. Minum air putih lebih banyak, rajin mandi dan bersih-bersih, ganti cleans...

Pikiran Kosong

Di perjalanan kita sering banget ketemu orang-orang baru. Tapi engga jarang juga ketemu orang yang sama. Sampe kadang kita mikir bentar, "Dia lagi, dia lagi." Atau ada yang mudheng ketemu orang yang sama, tapi engga pernah tahu sejarah kehidupannya, atau bahkan nama dan alamat tinggalnya pun tak pernah tahu. "Itu kayaknya yang kemarin deh..." Sama aja kayak hidup kamu dan juga aku. Nantinya kita akan sering ketemu orang-orang baru. Yang asing akan menjadi dekat, dan membuat dunia terisi, lalu kelewat bising dan pekat. Atau bisa saja yang asing akan tetap demikian. Tidak jadi dekat, karena hanya singgah sejenak di pelupuk mata, lalu pergi, berlalu, dan singgah di pelupuk mata orang lain. Atau mungkin kita bakal ketemu lagi dengan orang-orang yang sama. Mereka yang pernah sekadar halo-halo tanpa aba-aba, atau yang pernah sedekat nadi, lalu berlari sejauh matahari. Klise, namun ku tahu itu pasti terjadi. Entah hari ini, malam nanti, atau bisa saja kelak ketik...

Senandika Pagi Hari

Pagi ini agak sendu memang. Matahari tak terlalu narsis, bahkan mungkin cenderung minder. Jalan lumayan lapang. Sampai di stasiun, memasuki gerbong kereta yang penuh mau tidak mau membuat gue harus berdiri. Namun belum sampai dua menit, seorang laki-laki memberikan tempat duduknya untuk gue. Manis sekali. Kemudian gue melanjutkan mendengarkan musik dari ponsel. Kembali ke Awal by Glenn Fredly pun mulai mengalun di telinga. Seketika teringat dengan laki-laki yang pernah amat berkesan 4 hingga 5 tahun lalu. Sudah biasa saja kalau tiba-tiba teringat olehnya. Seperti kata pepatah, orangnya mungkin pergi, namun kenangan akan tetap tinggal. Seketika teringat dengan pertanyaan salah satu sahabat semalam. "Gimana kalau emang akhirnya kalian berjodoh?" Gue terdiam. Kemudian menyadari, di hadapan gue sudah tersaji burger yang mulai dingin. Tanpa kata, gue menggigit  burger itu dengan rakusnya. Tentu sambil berpikir, apa jawabannya. Malam tadi gue tidak menjawab apapun. Hari ini g...

Hidup Nulis!

Hari ini sedang merasa kosong melompong. Keseringan nonton video bullet journal dan stationery haul di YouTube menggugah gue untuk melakukan hal serupa di dunia nyata.  Akhirnya kemarin gue memutuskan untuk beli 1 buah plain notebook di Muji - Grand Indonesia. Harganya lumayan sih buat gue, Rp 45.000. Tapi itu udah yang paling terjangkau kalau dibandingkan dengan kualitas dan jumlah kertasnya. Cover nya hitam polos tok , udah jelas dong gue banget. Engga suka neko-neko. Kurang lebih gini penampakannya Eits, gue beli dan cerita soal plain notebook ini jujur engga bermaksud untuk me- review , because I really know I am not capable on it. Gue beli, karena seperti yang gue katakan di awal, gue ingin mencoba merealisasikan inspirasi yang berserakan di benak pasca menonton buanyak video bujo dan stationery haul. Akhirnya tadi pagi gue memutuskan untuk mendesain bujo yang gue setup untuk bulan Oktober. Mulai repot nyari ide di Pinteres...

Cerita Kala Macet di Ibukota

Aku benci kemacetan. Membuang waktuku duduk di jok kendaraan berlama-lama, menyita ria yang tadinya sempat singgah. Bahkan mengunyah roti dan meneguk air pun tak menjadi cara memecah penuhnya jalan ibu kota. Aku selalu heran dengan manusia di perkotaan. Menghabiskan waktu ditemani asap kendaraan, berlagak baik pada diri sendiri dengan masker berwarna-warni. Halo kamu, sungguh, masih sesak dadamu. Aku dengarkan sekali lagi musik yang berdendang di telinga. Beragam penyanyi, beragam nada, dan beragam kisah. Lalu tak sengaja mengalun lagu tentang dia yang sudah lama ku ikhlaskan. Nyatanya melepaskan tak sama dengan melupakan. Ia akan tetap menjadi memori yang terus berjalan bak putaran adegan dalam film. Hanya saja akhirnya sudah ku ketahui. Pupus.