Skip to main content

Hidup Nulis!

Hari ini sedang merasa kosong melompong. Keseringan nonton video bullet journal dan stationery haul di YouTube menggugah gue untuk melakukan hal serupa di dunia nyata. 

Akhirnya kemarin gue memutuskan untuk beli 1 buah plain notebook di Muji - Grand Indonesia. Harganya lumayan sih buat gue, Rp 45.000. Tapi itu udah yang paling terjangkau kalau dibandingkan dengan kualitas dan jumlah kertasnya. Covernya hitam polos tok, udah jelas dong gue banget. Engga suka neko-neko.

Kurang lebih gini penampakannya













Eits, gue beli dan cerita soal plain notebook ini jujur engga bermaksud untuk me-review, because I really know I am not capable on it.

Gue beli, karena seperti yang gue katakan di awal, gue ingin mencoba merealisasikan inspirasi yang berserakan di benak pasca menonton buanyak video bujo dan stationery haul.

Akhirnya tadi pagi gue memutuskan untuk mendesain bujo yang gue setup untuk bulan Oktober. Mulai repot nyari ide di Pinterest, websites, instagram, duh banyak deh sourcesnya. Tapi ya tetep aja mentok. Sampai akhirnya meyakinkan diri bahwa ide yang diangkat adalah minimalism. Ha-ha-ha, ya segitu ngototnya tetep membuat bujo.

Udah 3 lembar, eh kok ya bosen sendiri. Kayak mikir lagi "Gue ngapain sih? Bener-bener yakin engga sih nih bikin ginian? Terus, kalau gak bikin bujo, notebook ini buat apaan? Kan masih ada 2 notebook lain..." Mulai deh overthinking khas diri sendiri muncul di benak.

Akhirnya gue memutuskan berhenti mendesain dan menutup notebook kyud ini.

Kemudian malam ini, mencoba untuk melatih tangan dan diri sendiri untuk kembali menggambar. Kalo bisa throwback, waktu gue masih TK sampai SD, gue suka banget menggambar dan mewarnai. Sangking sukanya, dulu pensil warna, krayon, cat warna, segala rupa melimpah ruah. Segitu sukanya menggambar. Tapi semenjak SMP mulai males menggambar dan keterusan sampe setua sekarang.

Akhirnya tadi nyoba dan ya emang susah banget. Kaku abis!

Cukup 2 gambar aja. Dan nyerah.

Akhirnya dari perjalanan 2 hari ini gue bener-bener belajar untuk menerima keadaan diri sendiri yang udah dari sananya. Engga perlu ngotot membentuk diri jadi seperti orang lain yang bisa nge-bujo, ngegambar, ngewarnain, ngelukis, apapun. Gue pun akhirnya ya mau gak mau mensyukuri bahwa mungkin memang Tuhan memberikan talenta lain buat gue —nulis, misalnya. 

Meskipun tulisan gue gak rame dibaca. Meksipun mungkin tulisan gue yang baca gue lagi, gue lagi. Meskipun mungkin tulisan gue gak berdampak apapun, gak apa-apa. Gue akan tetep nulis sebaik yang gue bisa. Gue akan tetep mengembangkan talenta yang udah Tuhan kasih.

Seorang ahli dulunya pun pemula, katanya. 

So, why not untuk terus nulis?

Udah ah, pokoknya mau nulis. Mau semangatin diri sendiri lagi. Mau meyakinkan diri sendiri juga, bahwa ide nulis tak selalu tentang patah hati dan percintaan yang membosankan. Heu-heu (ketawa nanggung ceritanya).

Comments

Popular Posts

Review Novel Suwung: Tentang Kekosongan yang Usai

Kalau biasanya gue berbagi pengalaman ( yang sesekali dibalut dengan nada lirih hehe ), sekarang gue pengin review sebuah buku. Disclaimer dulu: gue enggak mau janji bakal rutin bikin review buku . Ya, karena gue tahu diri, gue kadang males buat segera menyelesaikan bacaan dan berbagi tentang ceritanya hehe. Jadi, mumpung mood -nya sedang mampir, dan kebetulan banget baru selesai baca bukunya, ya hayuk gue bikinin tulisannya. Monggo disimak, ya! *** Buku yang mau gue review kali ini adalah Suwung.  Gue punya buku ini sejak zaman mahasiswa. Gue lupa sih untuk tahun persisnya. Mungkin circa 2012-2013. Waktu itu gue dan temen-temen di HMJ yang gue ikuti bikin acara sejenis roadshow . Di acara tersebut, kami mengundang Republika. Di tengah acara, ada beberapa mini quiz yang diberikan. Honestly , gue panitia sih di sana, tapi melihat kurangnya antusias peserta untuk ikutan di kuis tersebut, alhasil gue ikutan menjawab pertanyaan. Konsepnya bener-bener ngasal, dan modal nekat aja buat j...

Senandika Pagi Hari

Pagi ini agak sendu memang. Matahari tak terlalu narsis, bahkan mungkin cenderung minder. Jalan lumayan lapang. Sampai di stasiun, memasuki gerbong kereta yang penuh mau tidak mau membuat gue harus berdiri. Namun belum sampai dua menit, seorang laki-laki memberikan tempat duduknya untuk gue. Manis sekali. Kemudian gue melanjutkan mendengarkan musik dari ponsel. Kembali ke Awal by Glenn Fredly pun mulai mengalun di telinga. Seketika teringat dengan laki-laki yang pernah amat berkesan 4 hingga 5 tahun lalu. Sudah biasa saja kalau tiba-tiba teringat olehnya. Seperti kata pepatah, orangnya mungkin pergi, namun kenangan akan tetap tinggal. Seketika teringat dengan pertanyaan salah satu sahabat semalam. "Gimana kalau emang akhirnya kalian berjodoh?" Gue terdiam. Kemudian menyadari, di hadapan gue sudah tersaji burger yang mulai dingin. Tanpa kata, gue menggigit  burger itu dengan rakusnya. Tentu sambil berpikir, apa jawabannya. Malam tadi gue tidak menjawab apapun. Hari ini g...

Senggol Gemas

Hari ini gue masuk rumah sakit. Engga engga, bukan karena sakit maag atau tipes kayak penyakit gue pada umumnya. Tapi, gue kecelakaan. Loh, kok bisa? Jawabannya, ya bisa aja. Jadi tadi kejadiannya bermula ketika gue naik salah satu ojek online alias ojol, dari Stasiun Manggarai ke kantor yang berlokasi di Tebet, Jakarta Selatan. Udah biasa banget lah pokoknya naik ojol ke sana. Udah mau nyampe nih, persis banget di depan kantornya, mau belok kanan, karena kantornya berada di kanan, sementara arah ojol gue dari Stasiun Manggarai itu di bahu kiri jalan. No , no , gue engga lawan arus. Tepat pada posisinya. Karena di sebelah bahu kanan jalan itu arah pulang ke Stasiun Manggarainya, begitu. Long story short , tiba-tiba banget BRAK! Punggung gue bunyi. Gue mikir dulu tuh, apaan ya tadi? Tiba-tiba kok sakit? Kok punggung jadi kaku? Dan gue lihat di depan gue, ada pengendara sepeda motor yang udah gegulingan dari motor, ditambah semarak kilatan besi kerangka motornya yang mengad...

Menuju 27: Siap?

2020 berlalu begitu cepat. Enggak terasa, ternyata udah masuk bulan Juli, dan artinya sudah resmi meninggalkan setengah bagian di tahun ini. Mungkin buat sebagian orang, 2020 adalah tahun yang paling mencekam dan enggak ada asyiknya. Buat gue juga sih, sebenernya. Rasanya baru kemarin pindah kantor baru, merasakan dunia baru dengan jabatan dan tanggung jawab yang baru (ehm, plus gaji yang baru tentunya hehe), natal, tahun baru, banjir di tahun baru, dan tiba-tiba udah dalam adegan menimbun lemak di rumah sepanjang hari. Bersamaan dengan rasa "enggak nyangka", gue juga enggak menyangka bahwa bulan ini adalah bulan ke 27 yang akan gue lalui. Itu artinya, gue sedang bersiap menuju angka 27. Wow, bisa dibilang tua gak sih? Hehehe. Anyway , sebagai usaha bagi-bagi-fakta, usia ke-27 adalah angka yang gue favoritkan sejak masa remaja. Entah kenapa, usia ke-27 tampak dewasa, pakem, dan matang.  Dulu gue sempat berpikir, di usia 27, gue akan menikmati masa sebagai wanita k...

Cerita Kala Macet di Ibukota

Aku benci kemacetan. Membuang waktuku duduk di jok kendaraan berlama-lama, menyita ria yang tadinya sempat singgah. Bahkan mengunyah roti dan meneguk air pun tak menjadi cara memecah penuhnya jalan ibu kota. Aku selalu heran dengan manusia di perkotaan. Menghabiskan waktu ditemani asap kendaraan, berlagak baik pada diri sendiri dengan masker berwarna-warni. Halo kamu, sungguh, masih sesak dadamu. Aku dengarkan sekali lagi musik yang berdendang di telinga. Beragam penyanyi, beragam nada, dan beragam kisah. Lalu tak sengaja mengalun lagu tentang dia yang sudah lama ku ikhlaskan. Nyatanya melepaskan tak sama dengan melupakan. Ia akan tetap menjadi memori yang terus berjalan bak putaran adegan dalam film. Hanya saja akhirnya sudah ku ketahui. Pupus.